TUGAS MAKALAH MATA KULIAH
KONSERVASI HABITAT DAN BIOTA AIR ENDEMIK
KAWASAN
KONSERVASI PERAIRAN DI JAWA
TAMAN NASIONAL
KARIMUN JAWA
Oleh:
KELOMPOK
EKA PUTRI : O 271 13 088
YULIANTI SUWARNI : O 271 13 077
RIFKY LASADI : O 271 13 074
MUHAMMAD RIFAI : O 271 13 080
DAVID STEVEN TATO : O
271 13 075
PROGRAM STUDI AKUAKULTUR
JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2016
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT. Tuhan yang maha kuasa, karena atas rahmat
dan hidayah-Nya sehingga makalah mata kuliah Konservasi
Habitat dan Biota Air Endemik dengan tema “Kawasan konservasi perairan di Jawa” ini dapat dibuat dengan tepat waktu.
Penyusun menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritik yang
bersifat membangun dari semua pihak demi menambah wawasan dan perbaikan penulisan makalah ini.
Demikian makalah ini disusun, semoga kiranya dapat bermanfaat bagi
kita semua, dan mudah-mudahan
kita semua akan selalu dalam lindungan Allah SWT, “Amin”.
Palu, Maret 2016
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL....................................................................................... ... i
KATA PENGANTAR.......................................................................................... ii
DAFTAR
ISI.......................................................................................................
iii
DAFTAR GAMBAR..........................................................................................
iv
I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................................. 1
B.
Rumusan Masalah........................................................................................ 3
C.
Tujuan.......................................................................................................... 3
II.
PEMBAHASAN
A.
Deskripsi Kawasan
Konservasi................................................................. 4
a.
Letak Geografis.................................................................................... .. 4
b.
Keadaan Umum
Wilayah...................................................................... .. 5
c.
Keadaan
Masyarakat............................................................................ .. 8
B. Deskripsi Habitat dan Biota yang di Lindungi Serta
Status Konservasi.. 9
C. Pemanfaatan
Kawasan Konservasi........................................................... 14
III. PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................ 16
B. Saran.......................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Nama
Halaman
Gambar 1. Peta
Taman Nasional Karimun Jawa...................................................
5
Gambar 2. Grafik jumlah telur penyu yang ditetaskan tahun
2005-2010............ 12
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konservasi merupakan suatu upaya
pelestarian, perlindungan, dan pemenfaatan sumber daya secara berkelanjutan.
Kepentingan konservasi di Indonesia khususnya sumber daya sudah dimulai sejak
tahun 1970an melalui mainstream
konservation global yaitu suatu upaya perlindungan terhadap jenis-jenis
hewan dan tumbuhan langka. UU No. 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil mengarahkan bahwa pemerintah dan seluruh pemangku
kepentingan pembangunan kelautan dan perikanan lainnya untuk mewujudkan
pengelolaan sumber daya ikan dan lingkungannya secara berkelanjutan. PP No. 60
Tahun 2007 Tentang Konservasi Sumber Daya Ikan menjabarkan arahan kedua
undang-undang tersebut dengan mengamanahkan pemerintah melalui Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk melaksanakan konservasi sumber daya ikan,
dan salah satunya adalah melalui penetapan dan pengelolaan kawasan konservasi
perairan.
Sejarah konservasi menegaskan, titik
krusial keberhasilan pencapaian tujuan dan sasaran konservasi terletak pada
efektivitas pengelolaan yang dilakukan terhadap sebuah kawasan konservasi.
Untuk mencapai hal tersebut, ditetapkan Peraturan Menteri Kelautan Nomor 30
Tahun 2010 tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Perairan. Lebih lanjut, pada tahun 2011 Dit. KKJI juga
telah menyusun Pedoman Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi
Perairan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (E-KKP3K).
Komitmen Pemerintah Indonesia untuk membangun kawasan
konservasi perairan seluas 20 juta hektar pada Tahun 2020. Capaian target
tersebut pada tahun 2014 sudah mencapai 16.451.076, 96 hektare. Sebesar
4.694.947,55 hektare dengan 32 kawasan dikelola oleh Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan dan sebesar 11.756.129,41 hektare dengan 113 kawasan
dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Komitmen tersebut tentunya
harus diikuti dengan pengelolaan yang efektif agar kawasan-kawasan tersebut
mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya baik bagi para
pemangku-kepentingan, khususnya masyarakat setempat, maupun bagi sumber daya
keanekagaman-hayati yang dilindungi dan dilestarikan. Pengelolaan agar lebih
memberikan manfaat kepada masyarakat maka diperlukan profil status kawasan
konservasi, dimana dalam penyusunan profil tersebut diharapkan dapat memberikan
gambaran terkini dari masing-masing
kawasan, baik kondisi biofisik, sosial, ekonomi dan budaya setelah wilayah
tersebut dikelola dengan baik. Kawasan-kawasan ini tiap tahunnya akan dilakukan
evaluasi melalui sistem evaluasi efektivitas pengelolaan kawasan konservasi perairan,
pesisir dan pulau- pulau kecil
(E-KKP3K), sehingga diperlukan profil detail dan data dan informasi dari
masing-masing kawasan. Berdasarkan latar belakang itulah sehingga makalah ini
dibuat untuk memberikan gambaran terkini dari kawasan konservasi perairan di
Provinsi Jawa Tengah, khususnya di pulau Taman Nasional Karimun Jawa baik
kondisi biofisik, sosial, ekonomi dan budaya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada,
maka diambil beberapa permasalahan yaitu diantaranya:
1. Bagaimana deskripsi
kawasan konservasi di Taman Nasional Karimun Jawa?
2. Bagaimana deskripsi habitat dan biota yang di lindungi serta
status konservasi di Taman Nasional Karimun Jawa?
3. Apa saja pemanfaatan
kawasan konservasi Taman Nasional Karimun Jawa?
C.
Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini yaitu untuk memberikan
gambaran terkini dari kawasan konservasi perairan di Provinsi Jawa Tengah,
khususnya di pulau Taman Nasional Karimun Jawa baik kondisi biofisik, sosial,
ekonomi dan budaya.
II. PEMBAHASAN
A. Deskripsi
Kawasan Konservasi
Nama
Kawasan : Taman Nasional Karimun Jawa
Dasar
Hukum :
· Pencadangan
: SK Menhut No.123/Kpts-II/1986
· Rencana
Pengelolaan dan Zonasi : Keputusan Direktur Jenderal PHKA No.SK
79/IV/Set-3/2005
· Unit
Organisasi Pengelola : Balai Taman Nasional Karimunjawa
· Penetapan
: SK. Menhut Nomor 74/Kpts-II/2001; Tgl
15-3-2001
Luas Kawasan : 110.117,30
ha
a. Letak Geografis
Kepulauan Karimunjawa terletak di
sebelah Timur Laut kota Semarang tepatnya pada posisi 5o 40’ – 5o
57’ LS dan 110o 4’ – 110o 40’ BT. Kep. Karimunjawa
termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara,
terdiri dari tiga Desa yaitu Desa Karimunjawa, Kemujan dan Parang.
Luas wilayah daratan dan perairan Taman Nasional
Karimunjawa adalah 110.117,30 hektar, berupa gugusan pulau
sebanyak 22 buah. Dari 22 pulau tersebut terdapat empat pulau berpenghuni yaitu
P. Karimunjawa, P. Kemujan, P. Parang dan P. Nyamuk (Balai Taman Nasional
Karimunjawa, 2004).
Gambar 1. Peta Taman
Nasional Karimun Jawa
b. Keadaan Umum Wilayah
Pulau
Karimunjawa (ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah) 1.285,50 hektare, dan
wilayah perairan 110.117,30 hektare, yang telah ditetapkan sebagai kawasan
pelestarian alam (KPA) berdasarkan Surat Keputusan Menhut No. 74/Kpts-II/2001
tanggal 15 Maret 2001. Kep. Karimunjawa termasuk dalam wilayah administrasi
Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara. Luas wilayah daratan dan perairan
Taman Nasional Karimunjawa adalah 111.625 hektare, berupa gugusan pulau
sebanyak 22 buah. Taman Nasional (Laut) Karimun Jawa mempunyai luasan total
111.625 hektare, terdiri dari wilayah daratan di Pulau Kemujan (ekosistem
mangrove) 222,20 hektare (Suraji et al., 2015).
Arus
di perairan Kepulauan Karimunjawa pada musim barat/barat laut berasal dari Laut
Cina Selatan yang menyeret massa air laut menuju ke Laut Jawa sampai ke arah
timur yaitu Laut Flores, Laut Banda, Laut Arafura dan sebaliknya pada musim
tenggara. Kecepatan arus permukaan rata-rata berkisar antara 8-25 cm/detik.
Kondisi ini sangat mempengaruhi kehidupan perairan, terutama ekosistem terumbu
karang (Suraji et
al., 2015).
Topografi
kawasan Taman Nasional Karimunjawa berupa dataran rendah yang bergelombang,
dengan ketinggian antara 0-506 m. Di kawasan Taman Nasional Karimunjawa tidak
ada sungai besar, namun terdapat lima mata air besar, yaitu Kapuran (Pancuran
Belakang), Legon Goprak, Legon Lele, Cikmas dan Nyamplungan, yang dimanfaatkan
sebagai sumber air bersih
Pada umumnya tipe dasar
perairan di Kep. Karimunjawa mulai dari tepi pulau adalah pasir, makin ke
tengah dikelilingi oleh gugusan terumbu karang mulai dari kedalaman 0.5 m
hingga kedalaman 20 meter. Ekosistem terumbu karang terdiri dari tiga tipe
terumbu, yaitu terumbu karang pantai (fringing reef), penghalang (barrier reef)
dan beberapa taka (patch reef). Tipe substrat dasar perairan berupa pasir
berlumpur dan lumpur berpasir (Suraji et al., 2015).
Kawasan
TN Karimunjawa terdapat lima tipe ekosistem yaitu ekosistem hutan hujan tropis
dataran rendah, hutan pantai, hutan bakau, ekosistem padang lamun, dan ekosistem
terumbu karang. Berbagai upaya identifikasi dan invetarisasi flora dan fauna
telah dilakukan baik oleh Balai Taman Nasional Karimun Jawa (BTNKJ) maupun oleh
instansi terkait.
Berdasarkan
jenis habitatnya, saat ini telah teridentifikasi 262 spesies flora yang terdiri
atas 171 flora yang hidup hutan hujan tropis dataran rendah (151 flora hutan
hujan tropis, 11 spesies lumut, 15 spesies jamur), 45 spesies mangrove, 34
spesies flora hutan pantai, 11 spesies lamun, 18 spesies rumput laut. Sedangkan
untuk fauna, saat ini telah teridentifikasi 897 spesies/genus fauna yang
tersusun atas beberapa taxa yaitu Mamalia (7), Aves (116), Reptilia (13),
Insekta (42), Pisces (412), Anthozoa (182) skeleractinian dan 23 non
skeleractinian), Plathyhelminthes (2), Annelida (2), Gastropoda (47), Bivalvia
(8), Cephalopoda (7), Arthopoda (5), Echinodermata (31) (Suraji
et al., 2015).
Gugusan terumbu karang
di Kepulauan Karimunjawa merupakan gugusan terumbu karang tepi. Hasil survei
yang dilakukan oleh Wildlife Conservation Society (WCS) sepanjang tahun 2003
dan 2004 menemukan 63 genera dari 15 famili karang keras berkapur
(scleractinian) dan tiga genera non-scleractinian yaitu Millepora dari kelas
Hydrozoa, Heliopora dan Tubipora dari kelas Anthozoa. Penutupan karang keras berkisar
antara 6,7% hingga 68,9% dan indeks keragaman berkisar antara 0,43 hingga 0,91.
Kondisi terumbu karang di Kepulauan Karimunjawa secara umum mempunyai rata-rata
penutupan sekitar 40% (Suraji et al., 2015).
c. Keadaan Masyarakat
Jumlah
penduduk Kecamatan Kepulauan Karimunjawa
pada tahun 2013 sebanyak 9.016 jiwa (4.547 laki-laki dan 4.469 perempuan)
dengan 2.621 rumah tangga yang memiliki angka kepadatan penduduk sebesar 127
jiwa/km2. Keagamaan penduduk didominasi oleh Islam, sebagian kecil
nasrani (Suraji et al., 2015).
Mata
pencaharian penduduk di Karimunjawa didominasi oleh petani (petani sebanyak
1.262 jiwa dan buruh tani 2.230 jiwa), penggalian 45 jiwa, industry 153 jiwa,
perdagangan 152 jiwa, konstruksi 74 jiwa, angkutan 74 jiwa, PNS dan ABRI 443
jiwa, pensiunan dan lainnya sebanyak 217 jiwa (Suraji
et al., 2015).
Kegiatan
perikanan di Kepulauan Karimunjawa adalah perikanan tangkap dan perikanan
budidaya. Jenis tangkapan ikan diantaranya Tenggiri (Scomberomorus sp.), Tongkol (Euthinnus sp.), Manyung (Netuma thalassina), Bentong
(Selar boops), Sulir (Atule mate), Badong (Carangoides sp, Caranx sp.), Tunulan
(Sphyraena sp.), Banyar (Rastrelliger sp.), Todak (Tylosurus sp.), Teri
(Hypoatherina sp.), Cumi (Loligo spp.), Sotong (Sephia sp.), Kepiting, Lobster
dan ikan-ikan karang seperti Kerapu (Epinephelus sp.), Sunu (Plectropomus sp.),
Baronang (Siganus sp.), Tambak (Lethrinus sp.), Kakap (Lutjanus sp.).
Alat
tangkap yang digunakan oleh nelayan diantaranya pancing (handline), jaring
(net), bubu (trap), tonda (troll line), branjang (lift net), panah (speargun),
tombak. Ada juga rewet/tedo, rentak, cimplung/serokan cumi dan krukup/serokan
ikan. Alat tangkap yang dominan digunakan adalah pancing (handline).
Kegiatan
perikanan budidaya berupa budidaya rumput laut dan budidaya ikan kerapu (kerapu
macan (Epinephelus polyphekadion) dan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) (Suraji
et al., 2015).
Pada
awal tahun 2012, terdapat kesepakatan antara nelayan pancing dan panah dalam
hal pembatasan jenis dan waktu tangkapan yang diperbolehkan untuk nelayan
panah. Hal ini berperan dalam meningkatnya ukuran dan kelimpahan ikan kerapu.
Nelayan panah tidak diperbolehkan menangkap ikan kerapu dari jenis sunu item
(Plectropomus areolatus) dan kerapu macan (Epinephelus fuscogutatus), sedangkan
untuk kerapu jenis lain tidak boleh ditangkap pada saat-saat tertentu yang
diduga sebagai masa pemijahan masal (spawning aggregation) atau yang disebut
masyarakat lokal sebagai unggah-unggahan (Muttaqin et al., 2012). Hal ini merupakan kesepakatan yang diprakarsai oleh
nelayan pancing yang mulai merasakan berkurangnya hasil tangkapan pancing untuk
jenis ikan kerapu karena tingginya frekuensi penangkapan ikan dari jenis
tersebut oleh nelayan panah.
Dengan kesepakatan ini,
kedua belah pihak dapat mengambil keuntungan yang optimal ditambah dengan
perbaikan sumber daya ikan kerapu secara alami yang baik untuk keberlangsungan
perikanan ini dan keseimbangan ekosistem di perairan terumbu karang Taman
Nasional Karimunjawa (Suraji et al., 2015).
B. Deskripsi Habitat dan Biota yang di Lindungi
Serta Status Konservasi
Monitoring
Terumbu Karang
Ekosistem
terumbu karang merupkan salah satu ekosistem esensial dalam kawasan Taman
Nasional Karimunjawa. Kegiatan Monitoring ekosistem terumbu karang merupakan
salah satu agenda utama kegiatan pengelolaan Balai Taman Nasional Karimunjawa.
Saat ini Taman Nasional Karimunjawa mempunyai 72 titik monitoring yang terbagi
dalam 3 tahapan monitoring dimana setiap tahapan terdiri atas 24 titik. Pada
tahun 2010, secara umum telah diketahui gambaran persentase penutupan terumbu
karang di kawasan TN Karimunjawa yang berada pada kategori Cukup hingga Baik
(41,08-61,66%).
Rehabilitasi Terumbu Karang
Laju tidaknya
pertumbuhan terumbu karang dipengaruhi oleh beberapa faktor Beberapa
diantaranya yaitu faktor alam yang dapat menyebabkan lambatnya pertumbuhan
terumbu karang yaitu adanya up-welling, yang
disebabkan oleh dinamika massa air oleh arus sehingga membawa massa air dingin
dari lapisan bawah ke lapisan substrat terumbu karang. Selain itu, cahaya
matahari, kejernihan air, kedalaman, pengendapan, suhu perairan, arus,
salinitas air laut dan substrat juga sangat mempengaruhi laju pertumnuhan
terumbu karang. Selain faktor alam diatas, ada beberapa faktor yang sangat
potensial dalam merusak ekosistem terumbu karang diantaranya yaitu aktifitas
daratan, over-fishing, Wisata bahari
yang merusak dan tidak adanya ekosistem mangrove, untuk itu sangat dibutuhkan teknologi
konservasi dan rehabilitasi terumbu karang untuk mempercepat pertumbuhan
terumbu karang (Dwi Santoso A, 2008)
Salah
satu permasalah dalam pengelolaan kawasan Taman nasional Karimunjawa adalah
degradasi potensi sumber daya alam hayati. Degradasi ekosistem terumbu karang
ditandai dengan relatif rendahnya persentase penutupan
terumbu karang
di beberapa lokasi. Faktor alam dan faktor manusia menjadi penyebab kerusakan terumbu karang. Faktor alam
disebabkan oleh adanya angin musim barat maupun angin musim timur serta
fenomena perubahan iklim. Sedangkan faktor manusia disebabkan oleh aktivitas
perikanan yang tidak ramah lingkungan, sandar jangkar serta pembangunan di
kawasan pesisir. Upaya rehabilitasi dilakukan untuk memperbaiki persentase
penutupan terumbu karang di dalam kawasan Taman Nasional Karimunjawa. Pada
tahun 2010, rehabilitasi terumbu karang di kawasan Taman Nasional Karimunjawa
dilaksanakan menggunakan metode transplantasi di SPTN I Kemujan dan SPTN II
Karimunjawa masing masing menggunakan 1.263 fragmen karang. Adapun jenis terumbu karang yang
ditransplantasi adalah jenis Acropora formosa dan Acropora grandis.
Menurut Dwi Santoso (2010), rehabilitasi selain
dapat dilakukan dengan strategi pemberdayaan masyarakat, rehabilitasi juga
dapat dilakukan dengan transplantasi
atau pencangkokan yang dilakukan dengan memotong karang hidup, lalu
ditanam di tempat lain yang mengalami kerusakan diharapkan dapat mempercepat
regenerasi terumbu karang yang telah rusak dan dapat pula dipakai untuk
membangun daerah terumbu karang baru yang sebelumnya tidak ada. Bibit karang yang sering digunakan pada uji coba
transplantasi ini adalah dari Acropora yang terdiri dari A tenuis, A
austera, A formosa, A hyacinthus, A divaricata, A nasuta, A yongei, A
aspera, A digitifera, A valida, dan A glauca.
Pelestarian
Penyu
Upaya konservasi dan pengelolaan
penyu di dalam kawasan Taman Nasonal Karimunjawa telah dilaksanakan secara
berkelanjutan yang dimulai dengan upaya identifikasi tempat pendaratan penyu
hingga saat ini menginjak pada upaya penetasan semi alami. Hasil kegiatan identifikasi dan inventarisasi penyu (2003)
menunjukkan bahwa penyu mendarat hampir di seluruh pulau di wilayah kepulauan
Karimunjawa termasuk di dalamnya adalah kawasan Taman Nasional Karimunjawa.
(Syukur M, 2014).
Kawasan
Taman Nasional Karimunjawa merupakan habitat bagi penyu hijau dan penyu sisik.
Upaya pengelolaan fauna ini sudah dilakukan secara berkesinambungan yang
dimulai dengan identifikasi tempat bertelurnya hingga saat ini menginjak pada upaya penetasan semi
alami. Pada tahun 2010, sejumlah
2.816 butir telur ditetaskan. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya,
maka jumlah telur yang ditetaskan di penetasan semi alami Balai Taman Nasional
Karimunjawa mengalami penurunan.
Penyu sisik merupakan satwa liar dan dilindungi di
negara Indonesia berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya
Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta PP No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan
Jenis Tumbuhan dan Satwa. Selain itu, sejak tahun 1978 Indonesia telah
bergabung dalam Convention on 2 International Trade in Endangered
Spesies Of Wild Flora And Fauna (CITES) yang menyatakan bahwa penyu masuk
kedalam Appendix I (CITES, 1977), yaitu semua jenis penyu dan produk yang
berasal dari penyu tidak boleh diperdagangkan.
Monitoring
Teripang
Teripang diketahui hidup pada habitat ekosistem
terumbu karang dan asosiasinya, dimana habitat tersebut secara fungsional dari
seluruh sistem tersebut menyediakan kebutuhan hidup teripang yang ada
didalamnya, sehingga berdasarkan dinamika ruang dan waktu, akan berpengaruh
pada organisme teripang dan cenderung untuk melakukan adaptasi baik adaptasi
fisiologis maupun morfologis, sifat serta sebarannya. Dari aspek ekosistem
terumbu karang sangat penting bagi habitat teripang. Dengan adanya dinamika
perbedaan jenis penyusun substrat dasar perairan pada ekosistem terumbu karang
memberikan dinamika populasi yang berakibat pada tinggi rendahnya densitas
teripang.
Teripang merupakan salah satu potensi keanekaragaman
hayati yang ada di kawasan Taman Nasional Karimunjawa. Sampai dengan saat ini
terdapat 25 jenis teripang di dalam kawasan Taman Nasional Karimunjawa Beberapa
jenis diantaranya merupakan jenis yang mempunyai nilai ekonomis tinggi yaitu
teripang susu, teripang pasir dan teripang gosok. Namun demikian, jumlah populasi teripang
diindikasikan menurun akibat adanya
penangkapan berlebih. Masyarakat bahkan menghinformasikan bahwa jumlah
tangkapan saat ini hanya mencapai sepersepuluh dari jumlah yang mereka dapat
sepuluh tahun lalu. Kegiatan
restocking teripang bertujuan
untuk memulihkan populasi teripang pasir di dalam kawasan Taman Nasional
Karimunjawa. Kegiatan restocking yang
dilaksanakan pada tahun 2009 ditindaklanjuti dengan melakukan Monitoring
Teripang di tahun 2010 ini. Hasil monitoring menunjukkan keberhasilan kegiatan
rehabilitasi teripang. Sebahai tindak lanjut upaya rehabilitasi akan
dilanjutkan pada tahun anggaran 2012.
Wilayah
perairan Karimunjawa, propinsi Jawa Tengah dikenal dominan memiliki jenis
ekosistem terumbu karang beserta asosiasinya (Sya’rani dalam Sulardiono B, 2014) memberikan habitat yang cocok untuk
kehidupan teripang. Hal ini karena ekosistem ini memberikan fungsi ekologis
yang sangat penting, yakni dapat menyediakan sumber makanan bagi teripang dan
sebagai faktor yang dapat menstabilkan ekosistem tersebut. Di sisi lain,
teripang sebagai hewan deposit feeder maupun suspension feeder (Uthicke, 2001 dalam
Villanueva et al., 2005) sangat bergantung dari ketersediaan makanan
dalam habitatnya.
C.
Pemanfaatan Kawasan Konservasi
.Taman Nasional Karimun Jawa memiliki banyak potensi
baik itu potensi lahan maupun potensi organisme didalamnya. Pemanfaatan kawasan
konservasi yang ada di kawasan konservasi Karimun Jawa adalah telah
dikembangkannya wilayah-wilayah wisata yang ada di dalam kawasan wilayah
konservasi. Untuk mempermudah pengelolaan pariwisata di wilayah TNL Karimunjawa
mak dalam pengembangan wisata dilakukan pembentukan satuan (Sub) Pengembangan
Wisata dalam 3 sub wilayah pengembangan (SWP). Agar dapat membantu Pengelolaan
wilayah yang dilindungi, Tanaman Nasional Laut Karimunjawa dibagi kedalam dua
zone (Balitbang Prov. Jateng).
Selain pengembangan pariwisata, pemanfaatan kawasan
konservasi dilakukan dengan melakukan pemberdayaan masyarakat yang berada di
kawasan konservasi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat
sekitar dalam menjaga wilayah konservasi berserta organisme didalamnya.
III. PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan diatas,
kami menyimpulkan bahwa: Taman Nasional Karimun Jawa memiliki beberapa
organisme perairan laut yang di konservasi yaitu terumbu karang, pelestarian
penyu dan monitoring teripang. Konservasi terumbu karang dilakukan dengan
melakukan monitoring dan rehabilitasi menggunakan metode transplantasi.
Pemanfaatan wilayah kawasan konservasi
dilakukan dengan menjadikan Taman Nasional Karimun Jawa sebagai wlayah wisata.
Selain itu pemanfaatan dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat.
B.
Saran
Perumusan dan penindaklanjutan program pendidikan
masyarakat untuk memberikan pengertian manfaat pariwisata bagi masyarakat dan
daerah setempat. Hal ini dapat dicapai dengan program konservasi dan konsep
pariwisata berkesinambungan.
DAFTAR PUSTAKA
Balai
Taman Nasional Karimunjawa, 2004. Penataan zonasi taman nasional karimunjawa
kabupaten jepara provinsi jawa tengah. Semarang. www.tn-karimunjawa.com
Balai
Taman Nasional Karimunjawa, 2010. Statistik Balai Taman Nasional Karimunjawa. Semarang.
Balitbang Prov. Jateng.________. Penelitian Dan Pengembangan Biota Laut
Kepulauan Karimunjawa.
Dwi Santoso A,
Kardono. 2008. Teknologi Konservasi dan Rehabilitasi Terumbu Karang. Peneliti
di Pusat Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Jakarta.
Muttaqin
E, Pardede S, Kartawijaya T, Muhidin. 2012. Laporan Teknis: Monitoring
ekosistem Terumbu Karang Di Taman Nasional Karimunjawa 2012 – Fase 5. Wildlife
Conservation Society-Indonesia Program. Indonesia.
Peraturan Menteri
Kelautan Dan Perikanan
Republik Indonesia Nomor Per.30/Men/2010 Tentang Rencana
Pengelolaan Dan Zonasi Kawasan
Konservasi Perairan
Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2007 Tentang Konservasi Sumber
Daya Ikan.
Sulardiono B,
Boedi Hendrarto. 2014. Analisis
Densitas Teripang (holothurians) Berdasarkan Jenis Tutupan Karang di
Perairan Karimun Jawa, Jawa Tengah. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Universitas Diponegoro. 2014.
Suraji, N. Rasyid, A.S. Kenyo H., A.R.
Jannah, D.R. Wulandari, M. Saefudin, M. Ashari, R. Widiastutik, T. Kuhaja, E.
Juliyanto, Y.A. Afandi, B. Wiyono, H. Syafrie, S.N. Handayani, Prayekti WCS.
2015. Profil Kawasan Konservasi Provinsi Jawa Tengah. Jakarta. http://kkji.kp3k.kkp.go.id
Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan
Pulau-Pulau Kecil.

